ContohJenis Produk dan Barang Grafika Cetakan. Berbagai jenis produk grafika akan kita bahas di bawah ini untuk menambah referensi teman-teman Sebagian sebenarnya sudah sering kita pakai sehari-hari. Karena jenis dari media percetakan itu sendiri sangat beraneka ragam, maka mimin memberikan cukup banyak referensi buat kalian : Media Massa Koran. Koran adalah produk grafika yang menggunakan aplikasi visual. Dimana tampilan dari produk grafika berupa Koran ini adalah
Beberapaproduk grafika yang kita kenali, di antaranya sebagai
11 Pembuatan Lithography. Contoh produk grafika berikutnya adalah lithography, ini diciptakan dari mesin cetak dan hasil teknik foto mekanik. Teknik lithography adalah teknik grafika yang dibuat dengan cara membuat tulisan atau gambar dengan cetakan datar atau rata.
Contohcontoh masalah dengan solusi produk grafika a Produk pangan khas daerah. Contoh contoh masalah dengan solusi produk grafika a. School Yelm High School 12; Course Title RELIGION MISC; Uploaded By widartofrans. Pages 18 This preview shows page 10 - 13 out of 18 pages.
10Contoh Wirausaha yang bisa Anda Coba. 1. Katering Rumahan. Wirausaha dengan membuka katering rumahan merupakan usaha yang dapat dilakukan jika Anda hobi memasak. Anda bisa menjual nasi bungkus atau sayur sebagai rumah makan versi rumahan. Anda bisa menggunakan rumah Anda sebagai tempat usahanya.
Contohmasalah produk grafika pada kegiatan olahraga yaitu misalnya pada bendera tim yang digunakan mudah luntur saat dipakai, solusinya bendera dicetak dengan menggunakan tinta kualitas bagus yang tidak mudah luntur
. Berikan Contoh Masalah Dengan Solusi Produk Grafika Pada Kegiatan Olahraga – Berbagai Contoh Berikan Contoh Masalah Dengan Solusi Produk Grafika Pada Kegiatan Olahraga – Berbagai Contoh Berikan Contoh Masalah Dengan Solusi Produk Grafika Pada Kegiatan Olahraga – Berbagai Contoh Makalah Wirausaha Produk Grafika ⋆ DOC PDF ⋆ Download Contoh Makalah Lengkap Berikan Contoh Masalah Dengan Solusi Produk Grafika Pada Kegiatan Olahraga – Berbagai Contoh Prakarya dan Kewirausahaan SMA/MA/SMK/MAK Kelas X - Semester 2 - Kurikulum 2013 - Edisi revisi 2017 Bab 2 Wirausaha Produk Grafika Pages 1 - 38 - Flip PDF Download FlipHTML5 Berikan Contoh Masalah Dengan Solusi Produk Grafika Pada Kegiatan Olahraga – Berbagai Contoh Tugas Prakarya PDF Prakarya dan Kewirausahaan Edisi Revisi 2017 Semester 2 untuk SMA Kel… Berikan Contoh Masalah Dengan Solusi Produk Grafika Pada Kegiatan Olahraga – Berbagai Contoh Tugas Prakarya PDF Seperti apakah contoh produk grafika pada kegiatan olahraga, pertunjukan seni, dan produk pangan? - Berikan Contoh Masalah Dengan Solusi Produk Grafika Pada Kegiatan Olahraga – Berbagai Contoh Perancangan Produk Grafis Berikan Contoh Masalah Dengan Solusi Produk Grafika Pada Kegiatan Olahraga – Berbagai Contoh Berikan Contoh Masalah Dengan Solusi Produk Grafika Pada Kegiatan Olahraga – Berbagai Contoh Tugas Prakarya PDF Berikan Contoh Masalah Dengan Solusi Produk Grafika Pada Kegiatan Olahraga – Berbagai Contoh Berikan Contoh Masalah Dengan Solusi Produk Grafika Pada Kegiatan Olahraga – Berbagai Contoh Contoh Aspek Evaluasi Individu Dalam Usaha Produk Grafika - Seputar Usaha Prakarya dan Kewirausahaan Edisi Revisi 2017 Semester 2 untuk SMA Kel… Bab 2 Wirausaha Produk Grafika PDF Prakarya dan Kewirausahaan - PDF Download Gratis Wirausaha Produk Grafika - Edukaloka Berikan Contoh Masalah Dengan Solusi Produk Grafika Pada Kegiatan Olahraga – Berbagai Contoh KELAS PAK ANTES Prakarya dan Kewirausahaan - PDF Free Download Berikan Contoh Masalah Dengan Solusi Produk Grafika Pada Kegiatan Olahraga – Berbagai Contoh Kelas_10_SMA_Prakarya dan Kewirausahaan sm 2 - Buku Siswa10_2016 Pages 51 - 100 - Flip PDF Download FlipHTML5 Kelas_10_SMA_Prakarya dan Kewirausahaan sm 2 - Buku Siswa10_2016 Pages 51 - 100 - Flip PDF Download FlipHTML5 Wirausaha Produk Grafika Prakarya dan Kewirausahaan Edisi Revisi 2017 Semester 2 untuk SMA Kel… Prakarya dan Kewirausahaan - PDF Download Gratis Wirausaha Produk Grafika Perencanaan dan Contohnya - Jasa Export Terpercaya PDF KESELAMATAN OLAHRAGA MELALUI BUKU PEDOMAN KESELAMATAN DALAM OLAHRAGA Berikan Contoh Masalah Dengan Solusi Produk Grafika Pada Produk Pangan Kelas_10_SMA_Prakarya dan Kewirausahaan sm 2 - Buku Siswa10_2016 Pages 51 - 100 - Flip PDF Download FlipHTML5 Prakarya dan Kewirausahaan - PDF Download Gratis berikan cntoh masalah dengan solusi produk grafika pada kegiatan pertunjukkan seni - KELAS PAK ANTES Bab 2 Wirausaha Produk Grafika Pages 1 - 38 - Flip PDF Download FlipHTML5 Prakarya dan Kewirausahaan Edisi Revisi 2017 Semester 2 untuk SMA Kel… Prakarya dan Kewirausahaan - PDF Download Gratis Muhamad Ilham WIRAUSAHA PRODUK GRAFIKA KEBIJAKAN PEMERINTAH TENTANG PENYEDIAAN FASILITAS OLAHRAGA PENDIDIKAN DI SMP SE-KABUPATEN DEMAK Analisis tentang Prosedur, Peme Buku Kreasi, Inovasi, dan Prestasi Mahasiswa UGM 2018 by Kreativitas UGM - issuu BANK SOAL X IPS SEMESTER I TP 2021-2022-Flip eBook Pages 101 - 150 AnyFlip AnyFlip Prakarya dan Kewirausahaan Edisi Revisi 2017 Semester 2 untuk SMA Kel… Proses Produk Grafika Berilah contoh masalah dengan solusi produk grafika pada produk pangan - Joe Taslim Ajak Kelola Sampah Rumah Tangga Guna Turunkan Plastik Laut - Produk tersebut hanya dikemas oleh plastik bening dan tidak memiliki label Course Hero Pengembangan Pembangunan Industri Keolahragaan Berdasarkan Pendekatan Pengaturan Manajemen Pengelolaan Kegiatan Olahraga KELAS PAK ANTES Produk tersebut hanya dikemas oleh plastik bening dan tidak memiliki label Course Hero 4 contoh masalah solusi produk grafika - Prakarya dan Kewirausahaan Untitled Prakarya dan Kewirausahaan Edisi Revisi 2017 Semester 1 untuk SMA Kel… 175 LAMPIRAN Lampiran 1. Lembar Penilaian Observasi Penelitian Prakarya dan Kewirausahaan Edisi Revisi 2017 Semester 1 untuk SMA Kel… PEMBANGUNAN OLAHRAGA PRESTASI DI JAWA TENGAH Wirausaha Produk Grafika PDF Peran Bahasa yang Persuasif dalam Pemasaran Pada Masa Pandemi PORTAL BERITA TERIKINI Muhamad Ilham WIRAUSAHA PRODUK GRAFIKA BANK SOAL X IPS SEMESTER I TP 2021-2022-Flip eBook Pages 101 - 150 AnyFlip AnyFlip Media Indonesia 8 Januari 2019 by mediaindonesia - issuu Prakarya dan Kewirausahaan Produk tersebut hanya dikemas oleh plastik bening dan tidak memiliki label Course Hero Prof. Dr. H. Andi Ihsan, Dr. Benny Badaru, EVALUASI PEMBINAAN PRESTASI PROGRAM SUKOWATI EMAS PADA KOMITE OLAHRAGA NASIONALINDONESIA KABUPATEN SRAGEN PDF Pengantar Akuntansi Seri Soal B dan Aktivitias Khusus Alifah Kurnia - Prof. Dr. H. Andi Ihsan, Dr. Benny Badaru, Untitled Berapa Jarak yang Aman dalam Social Distancing untuk Cegah Corona? Prakarya dan Kewirausahaan Untitled Media Indonesia 23 Januari 2019 by mediaindonesia - issuu Untitled Prakarya dan Kewirausahaan RADAR BEKASI EDISI 7 MEI 2018 berikan contoh masalah dengan solusi produk grafika pada produk pangan - Tips Membuat Resolusi Tahun 2021 Demi Jaga Kesehatan saat Pandemi Media Indonesia 28 Maret 2019 by mediaindonesia - issuu Untitled Prakarya dan Kewirausahaan Aswata Asuransi Terpercaya - Aswata Asuransi Terpercaya PENGARUH KINERJA KARYAWAN TERHADAP PELAKSANAAN PROMOSI JABATAN PADA DINAS PEMUDA DAN OLAHRAGA KOTA MEDAN Putusan 79-puu-viii-2010 UU Advokat. TELAH - Mahkamah … Logo Haornas 2020, Simak Arti Bentuk dan Setiap Warna - Bola Untitled EVALUASI PEMBINAAN PRESTASI PROGRAM SUKOWATI EMAS PADA KOMITE OLAHRAGA NASIONALINDONESIA KABUPATEN SRAGEN i PEMANFAATAN HANDPHONE ANDROID SEBAGAI PENUNJANG BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA SMK NEGERI 06 BENGKULU UTARA TESIS Diajuk Pengamat Laporan keuangan terlambat tunjukan Jiwasraya ada masalah - ANTARA News RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI MONITORING PELAKSANAAN PEKERJAAN STUDI KASUS SUKU DINAS PEKERJAAN UMUM TATA AIR KOTA ADMINISTRASI JAKARTA SELATAN DENGAN METODOLOGI BERORINTASI OBYEK M Zainal Arifin - E - PAPER RADAR BEKASI EDISI 12 JULI 2018 EVALUASI KEBIJAKAN PROGRAM PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN PEMUDA Studi Di Dinas Kepemudaan Dan Olahraga Provinsi Jambi Skr Produk tersebut hanya dikemas oleh plastik bening dan tidak memiliki label Course Hero Wirausaha Produk Grafika PKWU X IPA 4 KELOMPOK 2 BAB 2 SEMESTER 2 JANUARI ppt download
Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga Kemenpora Chandra Bhakti mengungkapkan sejumlah persoalan olahraga di Indonesia yang dianggap menjadi penghambat prestasi atlet di tingkat dunia yakni olimpiade. Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga Kemenpora Chandra Bhakti mengungkapkan sejumlah persoalan olahraga di Indonesia yang dianggap menjadi penghambat prestasi atlet di tingkat dunia yakni olimpiade.fotoegan/ Jakarta Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga Kemenpora Chandra Bhakti mengungkapkan sejumlah persoalan olahraga di Indonesia yang dianggap menjadi penghambat prestasi atlet di tingkat dunia yakni olimpiade. Menurut, Chandra Bhakti selama keterlibatan Indonesia dalam ajang olimpiade, hanya cabang-cabang olahraga tertentu saja yang berkontribusi dalam menyumbangkan medali, seperti Bulutangkis, Angkat Besi, dan Panahan. “Nah ini semua yang menjadi pemikiran kita dan atas dasar itulah bapak Menteri Pemuda Olahraga sesuai arahan Presiden kita melakukan diskusi sesungguhnya apa sih yang menjadi masalah dari situ masalah olahraga. Kita mencoba memetakan beberapa permasalahan terkait dengan olahraga prestasi begitu juga dengan olahraga rekreasi maupun olahraga pendidikan,” katanya dalam Sosialisasi Desain Besar Olahraga Nasional DBON Kemenpora bersama PWI Pusat, Rabu 1/9. Menurut Chandra, setidaknya ada 13 permasalahan olahraga yang dihadapi dalam olahraga prestasi. Sehingga, diharapkan dengan adanya Desain Besar Olahraga Nasional DBON yang telah disusun bersama stakeholder baik itu perguruan tinggi, pakar olahraga dan Komite Olimpiade Indonesia, KONI dan cabang-cabang olahraga dapat menjadi solusi dalam meningkatkan prestasi. Adapun diantara permasalah yang menghambat prestasi olahraga yang terakomodir dalam DBON antara lain, pertama, partisipasi dan kebugaran jasmani masyarakat berolahraga rendah. “Padahal, partispasi yang tinggi ini bahkan akan berdampak pada tingkat kebugaran yang baik juga,” ujar Chandra. Kedua, prasarana dan sarana olahraga masih terbatas, dan belum memenuhi standar. “Memang fakta, beberapa infrstruktur olahraga kita memang masih kurang bila dibandingkan dengan Negara-negara maju. Dan, ini juga belum berstandar dengan baik, contoh banyak lapangan sepak bola yang digemari masyarakat masih jauh dari standar,” pungkasnya. Ketiga, Sistem pembinaan olahraga prestasi belum dikembangkan dan dilakukan secara sitstematis, terencana, berjenjang dan berkelanjutan. “Pembinaan olaharaga harus dilakukan sejak usia dini, berjenjang dan secara berkelanjutan. Sehingga kita bisa mendpatakan bibit atlet yang baik dan tentu tIdak terjadi gap antara atlet yang berprestasi dengan generasi selanjutnya,” jelasnya. Keempat, manajemen kompetisi belum berjenjang, rutin, berkelanjutan dan tidak sesuai dengan kelompok usia serta karateristik cabang olahraga. Menurut dia, salah kelemahan pembinaan atlet di Indonesia adalah sistem kompetisinya yang blum teratur. “Padahal atlet tidak hanya kita latih, tetapi juga butuh kompetisi yang secara teratur dan juga preferensi bagus. Sehingga kita dapat menjadikan parameter sesungguhnya atlet kita ini hasil dari latihan,” katanya. Kelima, tenaga keolahragaan belum memenuhi secara kuntitas dan kulitas, dan masih sedikit yang federasi internasional. Keenama, Sport science belum dijadikan sebagai faktor utama untuk mendukung prestasi olahraga. “Padahal di dalam kondisi olahraga yang dinamis tentu olahraga prestasi kita sangat butuh sport science baik dari sisi kelimuan maupun dari sisi aplikasi teknologi yang terbarukan. Sehingga kita dapat mengukur perkembangan dalam hal pembinaan atlet berprestasi,” ujarnya. Ketujuh, dukungan anggaran masih sangat terbatas. Dikatakan, Chandra anggaran pembinaan olahraga yang dibiayai dari APBN sangat jauh bila dibandingkan dengan Negara-negara yang prestasi olahragannya sudah maju. “Nah inilah yang menjadi permasalahan agar kedepan kita sama-sama berharap ada afirmasi terhadap anggaran di bidang olahraga ini,” katanya. Kedelapan, manajemen organisasi keolahragaan belum dijalankan secara profesional Kesembilan, profesi sebagai olahragawan belum menjadi pilihan dan tidak ada jaminan masa depan purna prestasi. “Masalah ini menjadi sangat penting sehingga masih banyak pandangan yang mengatakan bahwa menjadi atlet masa depannya tidak terjamin. Bahkan orangtua masih banyak yang tidak mengizinkan anak-anaknya menjadi atlet,” paparnya. Kesepuluh, kurikulum khusus atlet belum ada. Oleh karena itu, dalam DBON ini, kedepan pihaknya akan bekerjasama dengan Kemdikbud Ristek untuk menyusun kurikulum khusus atlet. Kesebelas, database sistem informasi dan analisis data olahraga belum dilakukan. “Database menjadi sangat penting. Sehingga kita dapat mengetahui bibit-bibit atlet itu tidak secara manual,” tukasnya. Keduabelas, belum optimalnya peran Kementerian lembaga BUMN dan Pemerintah Daerah dalam mendukung atlet berprestasi serta masih kurangnya sinergitas dengan organisasi keolahragaan. Ketigabelas, dunia usaha belum dioptimalkan untuk mendukung kegiatan olahraga nasional. ded
B. Perancangan dan Produksi Produk Grafika Perancangan Produk Grafika Proses perancangan produk grafika diawali dengan melihat kebutuhan pasar atau identifikasi masalah yang dapat memanfaatkan produk grafika sebagai solusinya seperti kemasan makanan, kartu ucapan, gambar pada kaos atau stiker. Identifikasi masalah dilanjutkan dengan pembuatan gambar atau sketsa ide. Ide terbaik kemudian dikembangkan menjadi produk grafika yang akan dibuat, dilanjutkan dengan persiapan produksi dan proses produksi. Produksi adalah membuat produk hasil rekayasa sehingga siap dijual. 1. Identifikasi Masalah Perancangan produk bertujuan untuk menemukan solusi dari sebuah permasalahan, dalam hal ini produk grafika. Produk grafika bertujuan untuk memberikan informasi dan keindahan. Maka, permasalahan adalah masalah kebutuhan informasi dan keindahan. Proses perancangan diawali dengan mengidentifikasi permasalahan informasi yang dibutuhkan dan informasi yang akan diberikan. Contoh-contoh masalah dengan solusi produk grafika, • Produk pangan khas daerah dihasilkan oleh industri kecil menengah. Produk tersebut hanya dikemas oleh plastik bening dan tidak memiliki label. Pembeli tidak mengetahui produk apakah itu, apa rasanya, bagaimana cara mengonsumsinya, dan kapan batas tanggal pemakaiannya. Produk pangan khas daerah tersebut membutuhkan produk grafika berupa kemasan atau label yang dapat memberikan informasi sekaligus daya tarik bagi konsumennya. • Pada kegiatan olahraga, seragam tim sepakbola atau cabang olahraga lain biasanya membutuhkan nomor punggung. Pertandingan olahraga juga membutuhkan papan nilai yang berisi angka-angka. Angka pada nomor punggung maupun angka pada papan nilai merupakan produk grafika. • Kata-kata yang indah seperti puisi atau kata-kata bijak yang berisi motivasi biasanya dibuat pajang di dinding, sebagai kartu ucapan atau menjadi sebuah buku. Pajangan dinding, kartu ucapan maupun buku merupakan produk grafika. • Kegiatan pertunjukan musik dan tari membutuhkan poster untuk mengumumkan tema, waktu dan tempat dari acara tersebut. Pertunjukan musik dan tari juga memerlukan tiket masuk. Poster dan tiket merupakan salah satu produk grafika. 52 Kelas X SMA/MA/SMK/MAK Semester 1 2. Mencari Solusi dengan Curah Pendapat Langkah selanjutnya adalah mencari ide sebagai solusi dari masalah tersebut. Cara yang dapat dilakukan adalah melalui curah pendapat brainstorming yang dilakukan dalam kelompok. Pada proses brainstorming ini, setiap anggota kelompok harus membebaskan diri untuk menghasilkan ide-ide yang beragam dan sebanyak-banyaknya. Beri kesempatan juga untuk munculnya ide-ide yang tidak masuk akal sekalipun. Tuangkan ide-ide tersebut ke dalam sketsa. Kunci sukses dari tahap brainstorming dalam kelompok adalah jangan ada perasaan takut salah, setiap orang berhak mengeluarkan pendapat, saling menghargai pendapat teman, boleh memberikan ide yang merupakan perkembangan dari ide sebelumnya, dan jangan lupa mencatat setiap ide yang muncul. Ide meliputi bentuk, gambar dan teks, warna, komposisi dan teknik apa yang akan digunakan. Sumber Dokumen Kemdikbud Gambar Produk grafika sehari-hari di antaranya kaos dan poster. Prakarya dan Kewirausahaan 53 Sumber Dokumen Kemdikbud Gambar Sketsa ide dari proses brainstorming. Sumber Dokumen Kemdikbud Gambar Sketsa ide diberi keterangan teknis. 54 Kelas X SMA/MA/SMK/MAK Semester 1 3. Rasionalisasi Rasionalisasi adalah proses mengevaluasi ide-ide yang muncul dengan beberapa pertimbangan teknis, di antaranya, material dan bahan saja yang akan digunakan? Teknik apa yang akan digunakan untuk produksi? Bagaimana proporsi dan ukuran yang sesuai untuk produk tersebut agar sesuai dengan kebutuhan? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang memastikan bahwa rancangan yang dibuat dapat berfungsi baik dan dapat diproduksi. Perhatikan sketsa-sketsa yang telah dibuat. Pilih ide-ide yang dianggap baik dan potensial untuk produk grafika yang akan dibuat. Kembangkan ide-ide ini dengan rasional, dan tuangkan ke dalam sketsa-sketsa selanjutnya. Tentukan desain akhir dari produk grafika yang akan dibuat. Sumber Dokumen Kemdikbud Gambar Ide dari sketsa diaplikasikan dengan ukuran yang sesungguhnya. Sumber Dokumen Kemdikbud Gambar Gambar dengan ukuran sesungguhnya akan menjadi patokan
75% found this document useful 4 votes7K views53 pagesDescriptionMateri seputar bab 2 PKWU kelas 10 semester 2 kurikulum 2013Copyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsPDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?75% found this document useful 4 votes7K views53 pagesBab 2 Wirausaha Produk GrafikaDescriptionMateri seputar bab 2 PKWU kelas 10 semester 2 kurikulum 2013Full description You're Reading a Free Preview Pages 9 to 34 are not shown in this preview. You're Reading a Free Preview Page 38 is not shown in this preview. You're Reading a Free Preview Pages 42 to 46 are not shown in this preview.
Imagery atau visualisasi merupakan bentuk kreasi mental yang dilakukan secara sadar dan disengaja dan bertujuan untuk membentuk persepsi sesuatu dengan jalan membentuk imaji kreatif di dalam benak seseorang. imagery dapat dibagi atau diklasifikasikan menurut tujuan dan aplikasinya sebagai berikut a Motivational Specific MS, b Motivational General-Mastery MG-M, c Motivational General-Arousal MG-A, d Cognitive Specific CS dan e Cognitive General CG.Latihan imagery jika dilakukan dengan program yang tepat dapat bermanfaat untuk mempersiapkan olahragawan dalam melakukan suatu gerakan, gaya, atau keterampilan baru. Dapat pula diterapkan untuk memperbaiki suatu gerakan, gaya, atau cara bereaksi. Selain itu juga dapat digunakan untuk meningkatkan konsentrasi, meningkatkan motivasi, membangun kepercayaan diri, memantapkan strategi persiapan pertandingan serta, mengurangi rasa sakit dan pemulihan pasca cedera. Imagery dalam kegiatan olahraga dapat digunakan selama periodesasi latihan, yaitu digunakan selama training, kompetisi, dan rehabilitasi. Secara spesifik Imagery dapat digunakan sebelum dan sesudah latihan, sebelum dan sesudah pertandingan, selama waktu istirahat dalam latihan dan kompetisi, selama waktu pribadi di luar latihan resmi dan selama pemulihan cedera. Figures - uploaded by Rifqi FestiawanAuthor contentAll figure content in this area was uploaded by Rifqi FestiawanContent may be subject to copyright. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free T H E P O W E R O FIMAGERYRIFQI FESTIAWANSPORT PSYCHOLOGY The Power of Imagery Kajian Tentang Imagery Dalam Olahraga Rifqi Festiawan Universitas Jenderal Soedirman Abstrak Pada makalah ini dibahas mengenai latihan imagery dan teori yang mendasari. Imagery atau visualisasi merupakan bentuk kreasi mental yang dilakukan secara sadar dan disengaja dan bertujuan untuk membentuk persepsi sesuatu dengan jalan membentuk imaji kreatif di dalam benak seseorang. imagery dapat dibagi atau diklasifikasikan menurut tujuan dan aplikasinya sebagai berikut a Motivational Specific MS, b Motivational General-Mastery MG-M, c Motivational General-Arousal MG-A, d Cognitive Specific CS dan e Cognitive General CG. Latihan imagery jika dilakukan dengan program yang tepat dapat bermanfaat untuk mempersiapkan olahragawan dalam melakukan suatu gerakan, gaya, atau keterampilan baru. Dapat pula diterapkan untuk memperbaiki suatu gerakan, gaya, atau cara bereaksi. Selain itu juga dapat digunakan untuk meningkatkan konsentrasi, meningkatkan motivasi, membangun kepercayaan diri, memantapkan strategi persiapan pertandingan serta, mengurangi rasa sakit dan pemulihan pasca cedera. Imagery dalam kegiatan olahraga dapat digunakan selama periodesasi latihan, yaitu digunakan selama training, kompetisi, dan rehabilitasi. Secara spesifik Imagery dapat digunakan sebelum dan sesudah latihan, sebelum dan sesudah pertandingan, selama waktu istirahat dalam latihan dan kompetisi, selama waktu pribadi di luar latihan resmi dan selama pemulihan cedera. Kata Kunci Imagery, Visualisasi, Latihan. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keberhasilan atlet dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang saling mendukung antara faktor yang satu dengan lainnya. Faktor tersebut berasal dari dalam maupun dari luar atlet itu sendiri yang meliputi faktor fisik, psikis, teknik, taktik, pelatih, sarana dan prasarana latihan, latihan, sosial, dan sebagainya. Menurut Alderman Sudibyo Seyobroto, 1993 16 menyatakan bahwa penampilan atlet dapat ditinjau dari empat dimensi yaitu 1 dimensi kesegaran jasmani meliputi antara lain daya tahan, daya ledak, kekuatan, kecepatan, kelentukan, kelincahan, reaksi, keseimbangan, ketepatan, dan sebagainya, 2 dimensi keterampilan meliputi antara lain kinestetika, kecakapan berolahraga tertentu, koordinasi gerak, dan sebagainya, 3 dimensi bakat pembawaan fisik meliputi antara lain keaadan fisik, tinggi badan, berat badan, bentuk badan, dan sebagainya, 4 dimensi psikologik meliputi motivasi, percaya diri, agresivitas, disiplin, kecemasan, intelegensi, keberanian, bakat, kecerdasan, emosi, perhatian, kemauan, dan sebagainya. Sedang Singer Singgih D. Gunarsa, 1989 29 menyatakan bahwa olahraga adalah kegiatan yang meliputi aspek pisik, teknik dan, psikis. Prestasi puncak olahraga merupakan aktualisasi dari ketiga aspek tersebut. Aspek fisik adalah keadaan atlet yang berhubungan dengan struktur morfologis dan antropometrik yang diaktualisasikan dalam prestasi, aspek teknik adalah potensi yang dimiliki atlet dan dapat berkembang secara optimal untuk menghasilkan prestasi tertentu, sedang aspek psikis berhubungan dengan struktur dan fungsi aspek psikis baik karakterologis maupun kognitif yang menunjang aktualisasi potensi dan dilihat pada prestasi yang dicapai. Beradasarkan berbagai pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam mencetak atlet yang berprestasi ketiga aspek dalam diri atlet fisik, teknik dan psikis harus dioptimalkan melalui program yang sistematis dan terpadu antara satu samalain. Latihan tidak boleh hanya dilakukan untuk 2 mengembangkan salah satu aspek, akan tetapi semua harus dilatihkan sepanjang periodesasi latihan dengan kadar yang disesuaikan. Aspek psikis merupakan bagian dari pembinaan atlet untuk meraih prestasi tinggi sehingga perlu adanya kajian khusus mengenai hal tersebut yaitu psikologi olahraga. Psikologi olahraga merupakan bagian dari psikologi umum yang membantu mencetak atlet dari pemula menjadi juara atau memperlihatkan prestasinya, dan membantu atlet berbakat untuk mampu mengaktualisasikan bakatnya dalam prestasi puncak. Kondisi faktual menunjukkan bahwa pembinaan prestasi olahraga saat ini terutama ditingkat klub dan sekolah, khususnya pembinaan aspek keterampilan psikologis merupakan latihan yang sangat penting dalampembinaan olahraga. Kesabaran, keberanian, sportivitas, kepercayaan diri, motivasi, pengelolaan emosi, termasuk penetapan tujuan dan imajeri mental merupakan aspek-aspek psikologis yang sangat penting dalam pembinaan olahraga dan harus dilatihkan sejak usia dini seperti halnya latihan fisik atau teknik. Untuk dapat mengoptimalkan berbagai aspek psikologis tersebut diperlukan suatu metode yang digunakan, metode tersebut dalam psikologi olahraga sering disebut sebagai mental training. Mental training menurut Gunarsa, Soekasah, dan Satiadarma Juriana 2012 13, latihan mental didefinisikan sebagai “ a systematic, regular and longterm training to detect and develop resources and to learn to control performance, behavior, emotions, moods, attitudes, strategies and bodily processes”. Latihan mental adalah latihan yang sistematis, reguler dan jangka panjang agar atlet dapat mengontrol pikiran, emosi, dan perilakunya dengan lebih baik selama ia menampilkan performa olahraganya. Pelatihan mental/mental training dilakukan melalui beberapa metode, yaitu goal-setting, physical relaxation, thought/attention control, dan imagery. 3 Imagery merupakan salah satu metode yang digunakan dalam latihan mental/mental training, yang didefinisikan sebagai bentuk kreasi mental yang dilakukan secara sadar dan disengaja dan bertujuan untuk membentuk persepsi sesuatu dengan jalan membentuk imaji kreatif di dalam benak seseorang, Fanning Juriana 2012 18. Melalui proses mental kreatif ini, seseorang dapat mengubah persepsinya terhadap sesuatu karena ia membentuk imajinasi sesuatu dalam berbagai bingkai persepsi, atau melihat suatu keadaan tertentu dari berbagai sudut pandang. Pelaksanaan latihan imagery di lapangan bukan berarti bahwa latihan ini sepenuhnya dapat menggantikan latihan yang nyata tampak dalam peragaan fisik, tetapi kedua-duanya harus diberikan dalam satu kesatuan atau harus saling mengisi untuk mengoptimalkan/memaksimalkan pencapaian prestasi atlet, atau merupakan program yang terpadu seperti yang telah disebutkan sebelumnya. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah yang akan dikemukan, sebagai berikut 1. Apa pengertian imagery? 2. Apa fungsi imagery dalam olahraga? 3. Bagaimanakah penerapan imagery dalam olahraga? 4. Bagaimanakah teknik imagery dalam olahraga? 5. Apa yang dimaksud dengan imagery? 6. Apa saja faktor yang mempengaruhi keefektifan imagery? 7. Bagaimana proses imagery? 8. Apa saja tipe-tipe dari imagery? 9. Bagaimana cara mengembangkan program latihan imagery? 10. Kapan imagery dapat digunakan dengan lebih optimal? 4 C. Tujuan Makalah Setiap pembelajaran yang dilakukan tentu memiliki maksud dan tujuan yang ingin dicapai, secara umum penyusunan makalah ini bertujuan untuk memperoleh informasi lebih jauh mengenai psikologi olahraga. Adapun tujuan secara khusus pembuatan makalah ini untuk memperoleh pengetahuan dalam memahami 1. Memahami pengertian imagery dalam olahraga 2. Memahami fungsi imagery dalam olahraga 3. Memahami penerapan imagery dalam olahraga 4. Mengetahui teknik imagery dalam olahraga. 5 BAB II PEMBAHASAN A. Deskripsi Teori 1. Hakikat Imagery Istilah imagery, visualisasi, dan latihan mental telah digunakan secara beragantian oleh para peneliti, psikolog olahraga, pelatih dan atlet untuk menggambarkan teknik pelatihan mental yang kuat Taylor & Wilson, 2005 1. Pada awal perkembangan latihan mental merupakan istilah yang dipakai untuk menggambarkan teknik latihan imagery, tetapi istilah ini hanya merujuk pada gambaran umum dari strategi berlatih dengan modalitas sensorik atau kognitif yang digunakan Taylor & Wilson, 2005 1. Holmes & Collins 2001 1 mengatakan bahwa dewasa ini sebagian besar praktisi olahraga telah menggunakan latihan mental imagery yang menggambarkan teknik latihan mental terstruktur untuk menciptakan suatu kinerja olahraga yang optimal. Menurut Hardy, Jones & Gould 1996 1, biasanya beberapa atlet menggunakan latihan imagery tidak terstruktur yang dilakukan spontan guna mencapai tujuan tertentu, mereka mengalami kesulitan untuk mendapatkan rincian atas isi verbalitas sebagai inti dari latihan imagery. Namun gambaran mental tidak hanya perilaku spontan dari individu untuk membayangkan sesuatu penampilan. Taylor & Wilson 2005 2 menegaskan bahwa kekuatan imagery terletak pada penggunaannya sebagai program terstruktur yang menggabungkan berupa tulisan dengan audio skrip yang dirancang untuk menangani teknik olahraga tertentu agar atlet dapat meningkat panampilannya. Guillot & Collet 2008 2 menegaskan bahwa script latihan imagery merupakan suatu keniscayaan ketika akan melaksanakan program dan isi pelatihan imagery yang keberhasilannya ditentukan oleh instruksi dan cara pelatih mengkomunikasikannya. Menurut Taylor & Wilson 2005 2 sebelum atlet memulai sesi imagery , script dirancang dengan skenario rinci yang menyoroti pengaturan fisik dalam konteks kompetisi, penampilam khusus, dan bidang-bidang tertentu lainnya yang perlu 6 ditekankan. Sebagai contoh, penelitian Bell, Skinner & Fisher 2009 2 memakai script untuk memandu latihan imagery tiga pemain golf dan ditemukan hasil yang efektif dalam menempatkan bola pada sasaran. Namun, praktisi psikologi olahraga harus menyadari bahwa pengalaman pribadi dan hasil dapat bervariasi antara individu dan individu yang lain Murphy & Jowdy, 1992 2. Selama berlangsungnya imagery otak berproses dan berfungsi menurut Marks 1993 2 hasil penelitian telah melaporkan bahwa ketika individu terlibat dalam imagery otaknya menafsirkan gambar yang identik dengan situasi stimulus yang sebenarnya. Imagery sangat bergantung pada pengalaman yang tersimpan dalam memori, dan pelaku mengalaminya secara internal dengan merekonstruksi peristiwa eksternal dalam pikiran mereka. Vealey & Greenleaf 2006 2 menjelaskan bahwa imagery dapat digunkan untuk menciptakan pengalam internal baru dengan menyusun potongan-potongan gambar dalam berbagai bentuk. Tujuan dari latihan mental imagery untuk menghasilkan pengalaman olahraga sehingga atlet merasa secara akurat seolah-olah benar-benar melakukan olahraga Holmes & Collins, 2001 2. Menurut Vealey & Greenleaf 1998 3 semua indera penting dalam mengalami keejadian apa yang dibayangkan, oleh karena itu untuk membantu menciptkan sebuah kejadian tertentu, dalam penyusunan imagery harus memasukkan sebanyak mungkin perhatian panca indera. Iini menekankan bahwa Imagery mental itu harus melibatkan gerakan, pemandangan, suara,m sentuhan, bau, dan rasa serta emosi, pikiran dan tindakan. Imagery is actually a form of simulation, it is similar to a real sensory experience seeing, feeling, or hearing, but entire experience occurs in the mind, artinya imagery adalah sebuah bentuk simulasi, hal ini mirip dengan pengalaman sensorik yang nyata misalnya melihat, merasakan, atau mendengar, tetapi seluruh pengalaman tersebut terjadi dalam pikiran Robert S. Weinberg and Danield Gould, 2003 284. 7 Terry Orlick dikutip oleh David Yukleson dalam Singgih D. Gunarsa 2004 103, imagery merujuk pada proses merasakan yang sangat intens, seolah-olah perasaan tersebut merupakan keadaan yang sebenarnya. Imagery can be defined as an experience that mimics a real experience, where we are consciously aware of forming and seing an image and can involve the use of our other senses artinya imagery dapat didefinisikan sebagai pengalaman yang meniru pengalaman nyata, dimana kita secara sadar membentuk dan melihat dan dapat melibatkan indra kita yang lainnya Leslie dkk, 2010 1. Imagery is form of simulation. it is a method of using all the senses to create or recreate an experience in the mind artinya imagery adalah bentuk simulasi. itu adalah metode yang menggunakan semua indera untuk membuat atau menciptakan sebuah pengalaman dalam pikiran, Andy Cale dan Roberto Forzoni, 2004121. Robin S. Vealay dan Susan M. Walter seperti dikutip dalam Jean M. Williams, 1993 201-202 menyatakan Imagery may be defined as using all the senses to recreate or create an experience in the mind. This definition contains three keys to understanding imagery, 1 Imagery as recreating or creating Through imagery we are able to recreate as well as create experience in our mind. we recreate experiences all the time. 2 Imagery as a polysensory experience The second key to understanding imagery is realizing that imgery can and should involve all the senses, or that it is a polysensory experience. Althought imagery is often termed "visualization" or "seeing with the mind's eye," sight is not the only significant sense. All of our senses are important in experiencing events. Images can and should include as many senses as possible including visual, auditory, olfactory, gustatory, tactile, and kinesthetic senses. 3 Imagery as the absence of eksternal stimuli The third important characteristic of imagery is that it requires no external stimulus antecedents. Imagery is a sensory experience that occurs in the mind without any environmental props. 8 Artinya imagery dapat didefinisikan, menggunakan semua indera untuk menciptakan atau membuat sebuah pengalaman dalam pikiran. Definisi ini mengandung tiga kunci untuk memahami Imagery. 1 Imagery sebagai sebuah proses menciptakan atau membuat Melalui imagery kita mampu menciptakan serta menciptakan pengalaman dalam pikiran kita. kita menciptakan pengalaman setiap saat. 2 Imagery sebagai suatu pengalaman polysensory imagery sebagai suatu pengalaman polysensory Kunci kedua untuk memahami imagery adalah menyadari bahwa imagery dapat dan harus melibatkan semua indera, dimana semua itu adalah pengalaman polysensory. Imagery walaupun sering disebut "visualisasi" atau "melihat dengan mata pikiran," adalah pandangan bukan sebuah satu-satunya pengertian dari imagery. Semua indera kita sangat penting dalam mengalami kejadian pada proses imagery. Imagery dapat dan harus melibatkan indera sebanyak mungkin termasuk penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, peraba, dan indra kinestetik. 3 Imagery sebagai tidak adanya rangsangan eksternal Karaketristik penting imagery yang ketiga adalah bahwa imagery tidak memerlukan rangsangan luar awal. Citra adalah pengalaman indra yang terjadi dalam pikiran tanpa alat peraga lingkungan. Melihat dari berbagai pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian dari imagery adalah salah satu bentuk latihan mental yang menyertakan berbagai indera pada saat membentuk suatu gambar dalam pikiran pada saat melakukan imagery sehingga semua indera secara intens mengalami kejadian pada proses imagery ini seperti menggunakannya secara nyata. Dimana latihan ini memiliki tujuan untuk meningkatkan kinerja atlet dalam olahraga baik dalam proses berlatih maupun pada saat tampil dalam sebuah pertandingan atau kompetisi. a. Teori-teori Tentang Proses Kerja Imagery Banyak teori yang menjelaskan bagaimana proses imagery bekerja pada tubuh manusia. Pada dasarnya pikiran kita adalah alat pengontrol 9 tubuh kita sendiri, ini merupakan sebuah pemikiran yang masuk akal dimana hubungan pikiran dan tubuh manusia merupakan hubungan yang sangat penting dan juga esensial. Hubungan ini terjadi apakah anda benar-benar melaksanakan tugas atau hanya berfikir untuk melakukan salah satu. Salah satu penelitian yang terkenal adalah penggunaan elektroda pada kaki-kaki atlet ski salju pegunungan alpine untuk menguji otot mirip dengan impuls listrik yang dihasilkan selama gerakan yang sebenarnnya. Hasil dari percobaan tersebut sangat jelas menunjuk bahwa saat pemain ski itu duduk dan hanya memikirkan saat dia bermain ski menurun, pola serupa ditemukan pada otot seolah-olah dia telah benar-benar bermain ski. Dengan membayangkan dan memvisualisasikan diri anda bermain sepak bola, otot akan anda gunakan untuk melakukan tugas fisik yang dirangsang pada tingkat yang sangat rendah. Aktivasi otot halus ini tidak cukup kuat untuk menghasilkan gerakan yang sebenarnya anda bayangkan, tapi rangsangan tidak berfungsi untuk membentuk cetak biru bagi gerakan atau keadaan tertentu. Dengan menciptakan informasi sensorik yang tepat yang memberikan kontribusi untuk keberhasilan pelaksanaan keterampilan perilaku yang benar untuk situasi tertentu, anda akan memperkuat cetak biru sehingga menjadi lebih mungkin bahwa anda serius meningkatkan standar kinerja anda, anda akan membutuhkan untuk mengembangkan keterampilan membayangkan secara efektif baik unsur-unsur teknis dan taktis dari sepakbola Andy Cale dan Roberto Forzoni, 2004120. Sheikh & Korn 1994 4 menyatakan bahwa para psikolog olahraga telah berusaha untuk menjelaskan mekanisme dan cara kerja imagery. Tidak ada satupun teori yang bisa menjelaskan efektivitas latihan imagery secara komprehensif. Sehingga lahirlah beberapa teori, seperti teori “perhatian-kegairahan” yang berusaha menjelaskan latihan imagery dengan menggabungkan komponen kognitif dan fisiologis. Teori ini menjelaskan bahwa imagery merupakan teknik untuk mempersiapkan kinerja atlet yang terjadi baik secara fisiologis maupun psikologis. Teori 10 imagery ini menjelaskan bahwa domain kognitif dapat membantu atlet fokus pada tugas dengan isyarat yang relevan sebagai rangsangan tidak relevan, yang menjauhkan kinerja yang diharapkan. Melalui teknik mental iini, atlet juga menjadi sadar tentang kondisi fisiologisnya sehingga dapat mengurangi hambatan yang terkait dengan tindakan motorik, dan meningkatkan perhatian terhadap isyarat untuk respon motorik. Menurut Sheikh & Korn 1994 5 kondisi ini diasumsikan telah terjadi keadaan gairah yang optimal untuk mencapai kinerja puncak, dan imagery dapat memfasilitasi apa yang terjadi pada diri atlet untuk mencapai tingkat gairah yang optimal. Menurut Grouios, 1994; Hecker & Kaczor, 1988; Janssen & Sheikh, 1994; Murphy & Jowdy; 1992 dalam Richard 2002 264 sementara banyak penelitian telah dipublikasikan hal-hal yang berhubungan dengan keefektifan latihan imagery dan latihan mental dalam olahraga. Para psikolog olahraga tahu tentang sedikit alasan mengapa latihan imagery dan mental menjadi latihan yang efektif dan bagaimana cara kerjanya. Mengapa harus berlatih mental atau pencitraan sebuah tugas fisik yang mengakibatkan peningkatan belajar dan kinerja? Beberapa penjelasan yang mungkin dapat menjadi jawaban pertanyaan dasar ini telah disampaikan. Secara singkat dapat dijelaskan dengan berbagai teori yaitu 1 Teori Psychoneuromuscular Teori psychoneuromuscular berpendapat bahwa Imagery hasil alam bawah sadar pola neuromuskulernya identik dengan pola-pola yang digunakan selama gerakan sebenarnya. Meskipun membayangkan bahkan tidak mengakibatkan sebuah gerakan yang berlebihan dari otot-otot,perintah subliminal eferen syaraf motorik alam bawah sadar dikirim dari otak ke otot-otot. Dalam arti, sistem neuromuskular diberikan kesempatan untuk 'praktek' pola gerakan tanpa benar-benar otot itu bergerak. Teori Pysychoneuromuscular 11 adalah penjelasan paling masuk akal untuk mengapa citra memfasilitasi kinerja fisik dan belajar. 2 Teori Belajar Simbol Teori belajar simbol berbeda dari teori psychoneuromuscular dalam subliminal aktivitas listrik dalam otot-otot tidak diperlukan. Latihan mental dan citra bekerja karena individu secara harfiah merencanakan tindakannya terlebih dahulu. Urutan mental, tujuan tugas, dan alternatif solusi dianggap kognitif sebelum respon fisik yang diperlukan. Shortstop dalam bisbol menyediakan contoh yang sangat baik untuk teori ini dalam praktiknya. Sebelum masing-masing lemparan untuk pemukul, shortstop ulasan kognitif dalam pikirannya berbagai peristiwa mungkin dan respon yang tepat untuk masing-masing peristiwa. Jika ada dalam satu out di babak kedelapan, pangkalan dimuat, dan nilai terikat, pemain shortstop akan tergantung pada jenis bola yang datang kepadanya. Dengan berlatih mental berbagai rangsangan dan mungkin tanggapan sebelum masing-masing lemparan, shortstop dapat meningkatkan peluang menciptakan bermain yang benar 3 Teori Gabungan Perhatian dan Gairah Teori gabungan perhatian dan gairah . menggabungkan aspek-aspek kognitif simbolis belajar teori dengan aspek fisiologis teori psychoneuromuscular. Citra berfungsi untuk meningkatkan kinerja dalam dua cara. Dari perspektif physicological, citra dapat membantu atlet untuk menyesuaikan tingkat gairah untuk kinerja optimal. Dari perspektif kognitif, citra dapat membantu atlet untuk selektif hadir untuk tugas di tangan. Jika atlet menghadiri ke gambar tugas-relevan, dia cenderung tidak akan terganggu oleh gambar tidak relevan, ia cenderung tidak akan terganggu oleh rangsangan yang tidak relevan. Dalam analisis akhir, teori yang terbaik mungkin eklektikdi alam dan mencakup unsur-unsur dari semua teori tiga 12 atau lebih. Dari perspektif logis, itu akan tampak tidak praktis untuk mengecualikan mendukung salah satu dari teori-teori yang lain Suinn dalam Weinberg dan Gould, 2003 286 mengembangkan teknik peningkatan kognitif disebut visuomotor perilaku latihan “visuomotor behavioral rehearsal” VMBR, menggabungkan relaksasi progresif dan praktik latihan mental imagery. Lebih khusus praktik VMBR terdiri dari tiga tahap 1 atlet mencapai keadaan rileks dengan cara teknik relaksasi progresif, 2 latihan mental yang relevan dengan kebutuhan dan tuntutan olahraga masing-masing atlet, dan 3 praktik keterampilan fisik khusus dalam kondisi simulasi gerak. Menurut Onestak 1997 pelatihan VMBR dapat meningkatkan kinerja berbagaia tugas olahraga termasuk menembak lemparan bebas dalam permainan bolabasket. Behncke 2004 8 menegaskan bahwa latihan melalui proses VMBR yang digabungkan dengan keterampilan tertentu selama pelatihan mental, kemudian dikoordinasikan komponen imagery dengan kinerja fisik dapat meningkatkan terjadinya penyesuaian antara apa yang dibayangkan dengan keterampilan yang akan dilakukan. Banyak sekali teori yang menjelaskan bagaimana imagery bekerja diantaranya adalah teori Psychoneuromuscular yang menyatakan bahwa pada saat latihan imagery dilakukan pola syaraf yang terbentuk sesame seperti pola syaraf yang tebentuk ketika seorang melakukan aktifitas olahraga sebenarnya. Selanjutnya adalah teori belajar simbol yang menyatakan bahwa dengan imagery tubuh mencoba secara harfiah merencanakan tindakannya terlebih dahulu. Urutan mental, tujuan tugas, dan alternatif solusi dianggap kognitif sebelum respon fisik yang diperlukan, dan yang terakhir adalah teori gabungan perhatian dan gairah dimana dalam teori ini menjelaskan bentuk latihan imagery dengan penggabungan antara unsur mental dan fisik. Dengan melihat beberapa teori tersebut dapat disimpulkan bahwa berbagai penelitian telah dilakukan yang membuktikan bahwa latihan imagery dapat berguna 13 dalam peningkatan dan pengembangan ketrampilan seseorang yang ingin belajar suatu keterampilan tertentu pada cabang olahraga tertentu atau bahkan meningkatkannya agar tercipta suatu hasil yang optimal. b. Mekanisme Saraf Imagery Kosslyn, Ganis & Thompson 2001 638 mengatakan bahwa selama latihan mental, jalur neuromotor yang sama yang terlibat dalam pelaksanaan aktivitas tugas motorik fisik tertentu diaktifkan. Program motorik di korteks motorik, yang bertanggung jawab untuk gerakan, kemudian diperkuat sebagai hasil dari jalur saraf selama latihan mental imagery. Akibatnya, imagery mental dapat membantu dalam pembelajaran keterampilan dengan meningkatkan pola koordinasi yang tepat dan dengan priming motor neuron yang sesuai dari otot-otot yang diperlukan untuk melaksanakan tugas motorik tertentu. Singkatnya, menurut Halgren, Dale, Sereno, & Tootell 1999 10 latihan mental mengaktifkan kegiatan perifer, yang memberikan informasi aferan ke korteks motorik yang berfungsi untuk memperkuat program motorik. Lebih lanjut dikatakan olehnya bahwa dengan perkembangan teknologi neuroimaging, peneliti dapat menguji berbagai teori imagery. Para peneliti telah mengambil langkah-langkah untuk menunjukkan bahwa imagery mental menggabungkan mekanisme syaraf yang sama yang digunakan dalam memori, emosi, dan kontrol motor. Korteks motor utama, yang merupakan bagian dari lobus frontal, bekerja dalam hubungan dengan daerah pra-motor untuk merencanakan dan melaksanakan gerakan. Banyak peneliti telah menunjukkan bahwa area korteks yang diaktifkan dalam gerakan kontrol juga memainkan peran dalam imagery bermotor Klein, Paradis, Poline, Kosslyn, & LeBihan, 2000 10. Penelitian neuroimaging telah menunjukkan bahwa korteks premotor manusia diaktifkan ketika manusia mengamati tindakan orang lain, yang mungkin menandakan keberadaan mirror-neuron dalam otak manusia. Rizzolatti, Fogassi & Gallese 2001 846 dalam penelitiannya 14 berhasil menemukan bahwa subpopulasi neuron, sekarang yang disebut mirror-neuron, di korteks premotor daerah otak merespon selektif ketika binatang melakukan tindakan tertentu dengan tangan mereka dan ketika hewan mengamati tindakan yang sama yang dilakukan oleh orang lain. Hal ini masuk akal bahwa mirror-neuron terlibat dalam imagery motor, didasarkan pada gagasan bahwa atlet sering mengubah gambar dengan membayangkan apa yang akan mereka lihat apakah benda yang dimanipulasi agar sesuai dengan imagery yang diinginkan Kosslyn, dkk., 2001 638. Berdasarkan hasil pemeriksaan menyeluruh terhadap berbagai literatur terkait, para peneliti telah memberikan dukungan untuk proposisi bahwa latihan mental saja mungkin cukup untuk mempromosikan aktivitas dari sirkuit saraf yang terlibat dalam tahap awal belajar keterampilan motorik baru Martin dkk, 1999 11. Kosslyn dkk, 2001 639 mengatakan para peneliti telah mengemukakan, peningkatan aliran darah di daerah otak menunjukan bahwa simulasi mental gerakan mengaktifkan beberapa struktur saraf pusat yang dibutuhkan untuk gerakan fisik. Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa proses saraf yang terjadi di dalam otak manusia dapat menjadi dasar dan lebih menjelaskan bahwa imagery terjadi melibatkan proses sistem saraf di otak. c. Latihan Imagery dan Peningkatan Kinerja Gerak Olahraga Menurut Taylor & Wilson 2005 15 ada kesamaan pandang dan telah disepakati bahwa latihan mental imagery dapat meningkatkan kinerja melalui peningkatan faktor mental utama yang sangat mempengaruhi kinerja olahraga. Secara khusus, Moritz, dkk,. 1996 15 mengemukakan bahwa latihan mental imagery dapat meningkatkan kinerja ketika atlet berlatih strategi umum dan taktik, dan keterampilan khusus dengan menggunakan self-talk positif, dan kinerja secara keseluruhan. Lebih lanjut ditegaskan olehnya bahwa latihan mental 15 imagery dapat digunakan untuk memfasilitasi respon yang efektif terhadapt stres kompetitif dan emosi, dan menghasilkan persaan kinerja yang sukses dan mencapai tujuan yang diinginkan. Robin, dkk., 2007 18 meneliti efek dari pelatihan imagery pada peningkatan kinerja keakuratan keterampilan layanan motor pengembalian servis dalam permainan tenis. Surbug, Porretta, & Sutlive 1995 18 mengkaji efek dari latihan imagery sebagai bentuk tambahan dari latihan / praktik untuk belajar dan kinerja tugas gerak melempar. Hasilnya menunjukkan bahwa dari tujuh sesi pelatihan / pengujian peserta secara periodik subjek coba yang diberikan latihan praktik imagery menampilkan kinerja yang lebih besar pada tugas keterampilan motorik daripada orang-orang yang tidak terlibat dalam latihan imagery. Berbagai uraian hasil penelitian di atas mempertegas bahwa selain berbagai kajian teoritis latihan imagery menjelaskan dapat meningkatkan keterampilan gerak cabang olahraga tertentu, juga secara empiris hasil penelitian teori-teori itu berhasil dibuktikan. 16 BAB III PEMBAHASAN A. Pengertian dan Jenis Imagery 1. Pengertian Imagery Kata “mental imagery” dalam psikologi kognitif merupakan suatu representasi situasi lingkungan dalam kognisi atau pikiran seseorang. Sebagai suatu bentuk representasi mental, seseorang akan mencoba untuk membayangkan, menggambarkan suatu situasi seolah seseorang tersebut sedang melakukan suatu tindakan tindakan tertentu atau berada di dalam lingkungan tertentu. Imagery atau visualisasi merupakan bentuk kreasi mental yang dilakukan secara sadar dan disengaja dan bertujuan untuk membentuk persepsi sesuatu dengan jalan membentuk imaji kreatif di dalam benak seseorang. Melalui proses mental kreatif ini, seseorang dapat mengubah persepsinya terhadap sesuatu karena ia membentuk imaji suatu keadaan dalam berbagai bingkai persepsi, atau melihat suatu keadaan tertentu dari berbagai sudut pandang. Dalam konsep latihan mental dalam olahraga, visualisasi juga sering disebut sebagai mental rehearsal atau juga imagery process, Porter dan Foster Juriana, 2012 14. Porter dan Foster menyatakan “The reason visualization/imagery works is ... you are physiologically creating neural patterns in your brain, just as if your body had done the activity. These patterns are like small tracks engraved in the brain cells. It has been demonstrated that athletes who have never performed a certain routine or move can after a few weeks of specific visualization practice perform the move. As in physical practice, mental practice makes perfect too”. Dalam proses visualisasi seorang individu melakukan latihan mental dengan menggunakan kondisi precues pra-isyarat. Kondisi pra-isyarat ini melibatkan aspek konsentrasi dan dilandasi oleh tiga hal utama. Pertama, 17 hal yang divisualkan harus terlebih dahulu tertanam dalam ingatan seseorang. Kedua, untuk memfungsikan perilaku sesuai dengan pra-isyarat seseorang harus memusatkan perhatian secara sungguh-sungguh pada sasaran perilaku, jika hal ini tidak dilakukan maka arah perilaku mungkin akan menyimpang. Ketiga, perhatian harus berlangsung terus di dalam area pra-isyarat hingga tercapainya sasaran perilaku, Eversheim dan Block Juriana, 2012 14. Metode visualisasi merupakan metode yang menyatukan aspek kognitif dan perilaku. Informasi yang dimiliki seseorang dan gerakan yang dilakukan oleh orang terebut merupakan dua hal yang berpasangan secara erat. Dalam konteks olahraga, imagery digunakan untuk membantu atlet membuat visualisasi yang lebih nyata berkaitan dengan pertandingan atau kompetisi yang akan dijalaninya. Oleh karena itu, mereka menekankan pentingnya kekhasan latihan visualisasi bagi masing-masing cabang olahraga, bahkan nomor-nomor pertandingan yang bersifat spesifik atau individual. Dalam latihan visualisasi atlet harus berusaha melatih kepekaaan penginderaannya. Meskipun penglihatan merupakan aspek dominan, namun dalam proses visualisasi atlet juga perlu melatih kepekaan idera lainnya, seperti pendengaran dan penciumannya. Atlet tidak hanya membayangkan suasana pertandingan, tetapi juga membayangkan tepukan penonton, teriakan supporter, udara dan aroma di gelanggang olahraga. Selain itu, dalam proses visualisasi atlet juga harus mengembangkan pola pikir positif. Dengan membayangkan diri dalam lingkungan yang baik, maka seseorang dapat memperoleh lebih banyak kemudahan dalam bertindak. Selanjutnya atlet berupaya melakukan pencaman affirmation dengan pernyataan-pernyataan singkat seperti “ saya siap” atau “saya mampu”. 18 2. Jenis Imagery Menurut Richard H. Cox 2007 300 imagery dapat dibagi atau diklasifikasikan menurut tujuan dan aplikasinya dengan gambaran sebagai berikut Motivational Specific MS Motivational General-Mastery MG-M Motivational General-Arousal MG-A Gambar 1. Jenis-jenis imagery berdasarkan tujuan dan aplikasi Berdasarkan gambaran tersebut maka imagery dapat dibagi menjadi lima tipe yaitu sebagai berikut a. Motivational Specific MS Pada imagery tipe ini, atlet atau olahragawan membayangkan dirinya pada situasi olahraga spesifik dengan motivasi yang tinggi. Contohnya, seorang atlet bola basket memikirkan dirinya memenangkan suatu pertandingan pada pertandingan yang sangat penting, misalnya final pada kejuaraan yang bergengsi. b. Motivational General-Mastery MG-M Pada tipe imagery ini atlet membayangkan dirinya pada situasi olahraga apapun baik yang dianggap penting maupun kurang penting/dalam situasi pertandingan besar maupun kecil atlet mampu tetap menunjukkan untuk tetap fokus. Contohnya, atlet akan membayangkan dirinya untuk selalu berfikir positif dimanapun ia berada dari pertandingan kecil sampai besar. 19 c. Motivational General-Arousal MG-A Pada tipe imagery ini, atlet membayangkan dirinya dalam situasi olahraga general baik yang dianggap penting maupun kurang penting/dalam situasi pertandingan besar maupun kecil menunjukkan kemampuan untuk mengontrol tingkat kecemasannya. Contohnya, seorang atlet melakukan imagy atau membayangkan dengan menggunakan teknik pernafasan dalam deep breathing untuk tetap dalam kondisi yang relakaks atau tenang selama pertandingan berlangsung. d. Cognitive Specific CS Pada tipe imagery ini, atlet membayangkan dirinya mampu melakukan atau mengeksekusi keterampilan olahraga yang spesifik dalam suatu kompetisi. Contohnya, seorang atlet sepak bola membayangkan dirinya mampu mengeksekusi tembakan bebas hingga tercipta gol. e. Cognitive General CG Pada tipe imagery ini, atlet membayangkan dirinya untuk mempraktikkan keterampilan taktik dan strategi dalam suatu pertandingan. Misalnya strategi pertahanan dalam permainan bola volly, seorang pemain membayangkan strategi bertahan dalam menghadapi serangan dengan bola quick dari tengah lapangan permainan. B. Fungsi Imagery dalam Olahraga Imagery merupakan bagian dari latihan mental atau mental training. Fungsi imagery dalam bidang olahraga sering diaplikasikan pada beberapa situasi sesuai dengan kebutuhan olahragawan atau atlet, adapun beberapa fungsi imagery dalam olahraga adalah sebagai berikut Menurut Weinberg & Gould 2007 306-308 imagery dapat digunakan dalam beberapa kondisi, diantaranyaImprove concentration 2. Enhance motivation 3. Build confidence 4. Acquire, practice, and correct sport skills 20 5. Acquire and practice strategy 6. Prepare for competition 7. Cope with pain and injury. Latihan imagery jika dilakukan dengan program yang tepat dapat bermanfaat untuk mempersiapkan olahragawan dalam melakukan suatu gerakan, gaya, atau keterampilan baru. Dapat pula diterapkan untuk memperbaiki suatu gerakan, gaya, atau cara bereaksi. Selain itu juga dapat digunakan untuk meningkatkan konsentrasi, meningkatkan motivasi, membangun kepercayaan diri, memantapkan strategi persiapan pertandingan serta, mengurangi rasa sakit dan pemulihan pasca cedera. Selanjutnya sejalan dengan pemikiran tersebut Eugene F. Gauron Sapta Kunta, 2013 38 memberikan gambaran tentang program latihan mental yang menyebutkan adanya tujuh sasaran program, yaitu 1. Mengontrol perhatian, hal itu perlu dapat mengkonsentrasikan kemampuan dan perhatian pada titik tertentu sesuatu yang harus dikerjakan. 2. Mengontrol emosi, menguasai perasaan marah, benci, gembira, nervous, dan sebagainya sehingga dapat menguasai ketegangan dan bermain dengan tenang. 3. Energization, dimaksudkan untuk dapat mengembalikan kekuatan sesudah bermain all-out, sehingga pemain dapat mengerahkan kekuatan seperti biasa. Disamping istilah second wind juga dikenal istilah third wind bahkan juga forth wind. 4. Body awarness, dengan penguasaan body awarness atlet akan lebih memahami dan menyadari keadaan tubuhnya, dapat melokalisasi ketegangan dalam tubuhnya. 5. Mengembangkan rasa percaya diri, faktor yang dapat menentukan dalam penampilan puncak seorang atlet adalah kepercayaan pada diri sendiri. Dengan percaya diri atlet akan dapat bermain dengan baik dan mencapai hasil yang lebih baik. 21 6. Membuat perencanaan faktor bawah sadar, badan adalah pesuruh dari apa yang kita inginkan. Dengan menggunakan mental image sebagai salah satu cara latihan mental, maka apa yang kita pikirkan atau bayangkan dapat dilakukan. 7. Rekonstrukturisasi pemikiran apa yang dipikirkan akan berpengaruh dalam penampilan. Dengan merubah pemikiran juga akan merubah perasaan misalnya perasaan pasti kalah. Karena itu dengan merubah pemikiran juga dapat menghasilkan tingkah laku dan penampilan yang berbada. Berdasarkan beberapa pendapat yang telah disampaikan diatas dapat dikatakan bahwa Imagery membantu atlet untuk menciptakan gambaran yang riil berkaitan dengan kesulitan dan masalah-masalah yang mungkin akan dihadapi oleh para atlet selama pertandingan. Seperti diketahui, atlet seringkali membuat gambaran yang tidak nyata baik tentang dirinya maupun tentang lawan yang akan dihadapi. Menganggap lawan lebih superior, kemampuan teknisnya masih rendah atau lingkungan pertandingan yang menekan seringkali muncul dibenak para atlet ketika menyiapkan diri untuk sebuah pertandingan. Efeknya, seringkali atlet merasa rendah diri dan akhirnya merasa cemas yang berlebihan. Jika berlanjut terus menerus, maka kecemasan tersebut akan mengganggu performa atlet tersebut. Kecemasan yang muncul sebelum bertanding akan mengurangi konsentrasi dan membuat penampilannya menurun. Selain itu, Imagery juga dapat membantu atlet untuk meningkatkan motivasinya. Dengan gambaran diri yang jelas, maka atlet akan menyadari kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan dapat dia gunakan sebagai senjata untuk mengalahkan lawan, sedangkan kelemahan bisa menjadi evaluasi agar kekurangan-kekurangannya bisa ditutupi dengan teknik yang lain. Imagery juga digunakan untuk membayangkan hasil akhir yang diharapkan. Dalam bahasa yang lain, atlet diajak untuk mempunyai pikiran yang positif mengenai dirinya dalam rangka menjalani kompetisi atau 22 pertandingan yang akan dihadapi. Dengan pikiran yang positif, ketenangan, konsentrasi dan motivasi akan berada dalam posisi yang optimal. Imagery bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Meningkatkan performa, konsentrasi hingga proses penyembuhan cedera bisa menggunakan proses imagery. Imagery merupakan bagian dari proses latihan yang diberikan secara rutin dan berkala. C. Penerapan Imagery dalam Olahraga Imagery merupakan suatau teknik yang digunakan dalam melatihkan mental atlet yang dapat digunakan dalam berbagai kondisi sesuai dengan kebutuhannya, apakah untuk memperbaiki suatu gerakan, gaya, atau cara bereaksi, kesadaran diri olahragawan, meningkatkan rasa percaya diri, mengontrol emosi, mengurangi rasa sakit, mengatur gugahan semangat arousal, serta memantapkan strategi persiapan pertandingan. Berdasarkan hal tersebut maka imagery dalam kegiatan olahraga dapat digunakan selama periodesasi latihan, Martin et al. Richard H. Cox, 2007 300 memberikan gambaran bagaimana imagery digunakan dalam kegiatan olahraga, yaitu digunakan selama training, kompetisi, dan rehabilitasi yang bertujuan untuk meningkatkan dan memperbaiki keterampilan dan strategi, modifikasi cognisi, serta menanggulangi tingkat ketegangan dan kecemasan yang berlebihan. Berikut merupakan gambaran bagaimana imagery digunakan dalam olahraga menurut Martien et al Ilustrasi Penggunaan Imagery dalam Olahraga IMAGERY TYPE • Motivational Specific • Motivational General-Mastery • Motivational General-Arousal • Cognitive Specific • Cognitive General SPORT SITUATION • Training • Competition • Rehabilitation OUT COME • Acquisition and improved performance of skill and strategies • Modification of cognition • Regulation of anxiety IMAGERY ABILITY • Kinesthetic • Visual 23 Gambar 2. Penggunaan imagery dalam olahraga Senada dengan pernyataan tersebut Weinberg & Gould 2007 316 menyatakan bahwa imagery “can be used virtually any time-before and after practice, before and after competition, during breaks in the action in both ptactice and competition, during personal time and during competititon”. Imagery dapat digunakan sebelum dan sesudah latihan, sebelum dan sesudah pertandingan, selama waktu istirahat dalam latihan dan kompetisi, selama waktu pribadi di luar latihan resmi dan selama pemulihan cedera. Berikut merupakan gambaran bagaimana imagery digunakan dalam berbagai situasi tersebut 1. Sebelum dan Sesudah Latihan Salah satu cara untuk menjadwalkan imagery secara sistematis adalah untuk memasukkannya sebelum dan setelah setiap sesi latihan. Batasi sesi ini sekitar 10 menit; sebagian besar atlet memiliki kesulitan berkonsentrasi lebih lama tampa imagery. Untuk memusatkan konsentrasi dan bersiap-siap sebelum latihan, atlet harus memvisualisasikan keterampilan, rutinitas, dan permainan yang mereka harapkan untuk dilakukan. Setelah selesai latihan atlit harus meninjau kembali keterampilan dan strategi yang mereka latih. Karena atlit baru saja selesai berlatih, rasa gerakan harus segar dalam pikiran, yang akan membantu menciptakan kejelasan dan kesegaran gerak tersebut dalam pikiran atlet adalah imagery. 2. Sebelum dan Sesudah Pertandingan Imagery dapat membantu atlet untuk berfokus pada kompetisi yang akan dilakukan, jika atlit meninjau dan merencanakan apa yang mereka ingin lakukan, termasuk strategi yang berbeda untuk situasi yang berbeda. Waktu optimal imagery dalam kompetisi ini berbeda dari satu orang ke orang lain beberapa atlet dapat memvisualisasikan sebelum dimulainya kompetisi, sedangkan yang lain lebih suka melakukannya satu atau dua jam sebelumnya. Poin terpenting adalah bahwa visualisasi cocok untuk digunakan dalam rutinitas pra-event. Imagery tidak boleh dipaksakan atau 24 dilakukan secara terburu-buru. Setelah kompetisi, atlet dapat memutar ulang hal-hal yang mereka lakukan dengan berhasil dan mendapatkan gambaran yang hidup dan terkontrol. Pada situasi yang hampir sama, siswa dalam pembelajaran pendidikan jasmani dapat membayangkan dalam mengoreksi kesalahan dalam pelaksanaan keterampilan yang dipelajari dan dilatih. Siswa juga dapat memutar ulang eksekusi teknik yang gagal, untuk diperbaiki dengan membayangkan keberhasilan serta mengkoreksinya atau memilih strategi untuk memperbaikinya. Imagery juga dapat digunakan untuk menguatkan cetak biru dalam memori gerak keterampilan yang sudah dilakukan dengan baik. 3. Selama Waktu Istirahat antara Latihan dan Kompetisi Waktu dan batasan antara musim atau waktu kompetisi dan jeda kompetisi sering kabur. Dalam banyak kasus, ada yang menyatakan waktu jeda kompetisi adalah tidak ada, karena atlet harus tetap melakukan pengkondisian kardiovaskular, beban, dan keterampilan khusus dalam cabang olahraga selama waktu jeda kompetisi walaupun dengan pembebanan yang disesuaikan. Penggunaan imagery selama jeda kompetisi adalah kesempatan yang baik untuk menjaga kondisi motivasi untuk tetap berlatih dan menetapkan tujuan atau target pada kompetisi yang akan datang. Pada banyak olahraga selalu ada jeda istirahat pada permainannya, pada jeda istirahat ini merupakan kesempatan yang baik dalam memberikan perlakuan imagery untuk memperbaiki kegagalan penampilan atlet, baik dari psikis maupun teknis. Imagery dapat digunakan dalam membangun dan meningkatkan motivasi dan menurunkan tingkat kecemasan yang tinggi yang dialami atlet. 4. Selama Waktu Pribadi diluar Latihan Resmi Atlet dapat melakukan imagery di rumah maupun tempat-tempat khusus lainnya selama atlet tidak berlatih di tempat latihan yang sebenarnya 25 klub untuk tetap menjaga motivasi dan fokusnya terhadap olahraga yang ditekuni. 5. Selama Pemulihan Cedera Pada waktu pemulihan cedera imagery dilakukan untuk menanggulangi kecemasan akan kembali cedera. Kecemasan ini adalah hal normal bagi setiap atlet yang baru saja pulih dari cederanya. Kecemasan merupakan respons atlet yang lebih bersifat kognitif, bentuk proses belajar sosial serta berhubungan dengan antisipasi atlet terhadap sesuatu yang tidak nyata secara fisik. Istilah kecemasan dianggap sesuai dengan keadaan atlet yang baru pulih cedera, karena merupakan gambaran perasaan dan penilaian atlet terhadap riwayat cedera yang pernah dialami. Hal yang dianggap sebagai ancaman tidak nyata secara fisik karena dalam kenyataannya cedera tersebut sudah pulih. Kecemasan ini kemudian berdampak secara fisiologis dan psikologis yang akan terlihat pada performance atlet. D. Teknik Imagery dalam Olahraga Ada beberapa teknik latihan visualisasi atau imagery yang dapat dilakukan di dalam atau di luar lapangan. Waktu yang dibutuhkan juga relatif, bisa sangat singkat hanya dalam hitungan detik sampai menit, dapat dilakukan di tempat yang sunyi ataupun ramai, bahkan pada saat sedang melakukan pertandingan. Latihan visualisasi yang lebih panjang dan terpandu guided visualization biasanya dilakukan dengan menyendiri di ruang yang sunyi, tenteram, nyaman umumnya di kamar tidur atau ruang khusus, terutama dilakukan pada awal melakukan latihan visualisasi, atau pada saat digunakan untuk meredakan ketegangan. Untuk menguasai kecakapan imagery, diperlukan pemahaman yang mendalam dari olahragawan dan bimbingan yang jelas dari pelatih mental, agar tidak terjadi kekeliruan dalam menerapkannya. Pelatih mental atau psikolog olahraga dibutuhkan sebagai pendamping olahragawan saat melakukan latihan imagery, untuk misalnya memandu latihan imagery, memilih kata-kata yang 26 tepat untuk digunakan dalam imagery, dan meningkatkan kemampuan imagery. Untuk melakukan latihan imagery, perhatikan panduan imagery oleh Sapta Kunta 2013 41-42 sebagai berikut 1. Cari tempat yang tenang sehingga tidak akan terganggu, ambil posisi yang nyaman dan usahakan relaks. 2. Imajinasi yang diberikan harus positif dan berhasil, jangan negatif. 3. Mengikutsertakan sebanyak mungkin penginderaan. 4. Berimajinasi secara keseluruhan. 5. Dapat dilakukan sebelum dan selama latihan atau pertandingan. 6. Pelatih harus berpengalaman untuk kualifikasi imagery. 7. Akhiri latihan ini dengan bernafas dalam-dalam, membuka mata dan kembali menyesuaikan diri dengan lingkungan. Secara lebih spesifik berikut merupakan tahap-tahap yang harus dilalui dalam menjalankan latihan imagery 1. Duduklah di tempat yang nyaman dan tidak ada gangguan. 2. Nyamankan tubuh dengan mengambil nafas panjang dan perlahan-lahan. 3. Tutup mata dan ciptakan gambaran yang jelas dan meyakinkan. Gambaran ini bisa jadi merupakan gambaran dari peristiwa yang pernah dialami atau bisa juga sesuatu yang diinginkan. 4. Jika tiba-tiba muncul gambaran lain yang mengganggu atau tiba-tiba berfikir tentang sesuatu yang lain, segeralah sadari dan kembali ke gambaran semula. 5. Fokuslah pada pernafasan jika kehilangan gambaran yang diinginkan tadi. 6. Pertahankan sikap yang positif. 7. Bayangkan penglihatan, suara-suara, rasa, perasaan, bahkan bau dari pengalaman. 8. Catatlah detil-detil dari gambaran tersebut sebaik mungkin. Apa yang dipakai, siapa saja yang ada disana, apa yang didengar, bagaimana perasaan Anda? 27 9. Jika sesi latihan imagery itu tidak berjalan sesuai keinginan, maka bukalah mata dan segera memulainya lagi yang diawali dengan pernafasan. 10. Selalu mengakhiri latihan Imagery dengan gambaran yang positif. Berikut ini disajikan pelaksanaan latihan imagery yang dilakukan untuk mengembangkan kemampuan teknis dalam cabang olahraga, yaitu menggambarkan atau membayangkan keseluruhan pola teknik sejak awal hingga akhir atau tentang bagian-bagian tertentu. Contoh seorang pemain olahraga melakukan latihan imagery 1. Duduk di tempat yang nyaman; kaki dan tangan jangan disilangkan. Setelah mendapatkan posisi yang santai, tutup mata anda dan cobalah mengingat suatu penampilan permainan olahraga yang ketat dan bagus dan anda unggul. Bayangkan kejadian itu segamblang mungkin. Dimana waktu pertandinganya, jam berapa, cuaca diwaktu itu, apa yang dilihat dan didengar. 2. Bayangkan anda melakukan servis; dimulai dengan posisi kaki, mengayunkan raket, memikirkan sasaran, jenis pukulan, saat perkenaan dan masuk sesuai sasaran. Frekuensi 15 kali. 3. Bayangkan anda melakukan pukulan lob dimulai dengan posisi kaki yang baik, mengayunkan raket, memikirkan sasaran, saat perkenaan dan masuk sesuai sasaran. Frekuensi 15 kali. 4. Bayangkan anda melakukan pukulan smash dimulai dengan posisi kaki, mengayunkan raket, memikirkan sasaran, saat perkenaan dengan keras dan masuk sesuai sasaran. Frekuensi 15 kali. 5. Bayangkan anda melakukan pukulan drive di tengah lapangan dimulai dengan posisi kaki, mengayunkan raket, memikirkan sasaran, saat perkenaan dengan keras dan masuk sesuai sasaran. Frekuensi 15 kali. 6. Pada saat terakhir dilakukan latihan imagery rangkaian keseluruhan teknik-teknik yang ada, misalnya bayangkan anda melakukan servis pendek dengan baik, kemudian bergerak maju, melakukan serobotan dengan tajam sehingga lawan mati. Frekuensi 15. 28 BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan 1. Imagery atau visualisasi merupakan bentuk kreasi mental yang dilakukan secara sadar dan disengaja dan bertujuan untuk membentuk persepsi sesuatu dengan jalan membentuk imaji kreatif di dalam benak seseorang. 2. imagery dapat dibagi atau diklasifikasikan menurut tujuan dan aplikasinya sebagai berikut a. Motivational Specific MS b. Motivational General-Mastery MG-M c. Motivational General-Arousal MG-A d. Cognitive Specific CS e. Cognitive General CG 3. Latihan imagery jika dilakukan dengan program yang tepat dapat bermanfaat untuk mempersiapkan olahragawan dalam melakukan suatu gerakan, gaya, atau keterampilan baru. Dapat pula diterapkan untuk memperbaiki suatu gerakan, gaya, atau cara bereaksi. Selain itu juga dapat digunakan untuk meningkatkan konsentrasi, meningkatkan motivasi, membangun kepercayaan diri, memantapkan strategi persiapan pertandingan serta, mengurangi rasa sakit dan pemulihan pasca cedera. 4. Imagery dalam kegiatan olahraga dapat digunakan selama periodesasi latihan, yaitu digunakan selama training, kompetisi, dan rehabilitasi. Secara spesifik Imagery dapat digunakan sebelum dan sesudah latihan, sebelum dan sesudah pertandingan, selama waktu istirahat dalam latihan dan kompetisi, selama waktu pribadi di luar latihan resmi dan selama pemulihan cedera. 5. Untuk melakukan latihan imagery, perhatikan panduan berikut ini a. Cari tempat yang tenang sehingga tidak akan terganggu, ambil posisi yang nyaman dan usahakan relaks. b. Imajinasi yang diberikan harus positif dan berhasil, jangan negatif. 29 c. Mengikutsertakan sebanyak mungkin penginderaan. d. Berimajinasi secara keseluruhan. e. Dapat dilakukan sebelum dan selama latihan atau pertandingan. f. Pelatih harus berpengalaman untuk kualifikasi imagery. g. Akhiri latihan ini dengan bernafas dalam-dalam, membuka mata dan kembali menyesuaikan diri dengan lingkungan. 30 Daftar Pustaka Cale, Dr Andy &Forzoni Roberto. 2004. The Official FA Guide to Psychology For Football. FA Learning Ltd. Hodder& Stoughton Festiawan, R., Nurcahyo, P. J., & Pamungkas, H. J. 2019. Pengaruh latihan small sided games terhadap kemampuan long pass pada peserta ekstrakurikuler sepakbola. Media ilmu keolahragaan Indonesia, 91, 18-22. Festiawan, R., Ngadiman, N., Kusuma, I. J., Nurcahyo, P. J., & Kusnandar, K. 2019. Pengembangan Model Pembelajaran Pendidikan Jasmani Berbasis Games, Education, and Visualisation GEV Untuk Meningkatkan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja. Jendela Olahraga, 42, 13-24. Festiawan, R., Suharjana, S., Priyambada, G., & Febrianta, Y. 2020. High intensity interval training dan fartlek training Pengaruhnya terhadap tingkat VO2 Max. Jurnal keolahragaan, 81. Festiawan, R., Raharja, A. T., Jusuf, J. B. K., & Mahardika, N. A. 2020. The Effect of Oregon Circuit Training and Fartlek Training on the VO2Max Level of Soedirman Expedition VII Athletes. Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga, 51, 62-69. Festiawan, R. 2020. Pendekatan Teknik dan Taktik Pengaruhnya terhadap Keterampilan Bermain Futsal. Gelanggang Olahraga Jurnal Pendidikan Jasmani Dan Olahraga, 32, 143-155. Festiawan, R. 2020. Application of Traditional Games How Does It Affect the Children's Fundamental Motor Skills?. Jurnal MensSana, 52, 162-170. Festiawan, R. 2020. Latihan Mental Dalam Olahraga. Festiawan, R. 2015. Pedagogi Olahraga Sport Pedagogy. Universitas Negeri Yogyakarta. Guillot, A., & Collet, C. 2008. Construction of the motor imagery integrative model in sport A review and theoretical investigations of motor imagery use. Gunarsa, Singgih 2004 Psikologi Olahraga Prestasi 31 Heza, F. N., Wahono, B. S., & Festiawan, R. 2020. Antioksidan Untuk Olahraga Kesehatan. Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi, 62, 200-205. Holmes, P. & Collins, D. 2001.The PETTLEP approach to motor functional equivalence model for sport of Applied Sport Psychology, 13, 60-83. Juriana. 2012. Peran pelatihan mental dalam meningkatkan kepercayaan diri atlet renang sekolah ragunan. Tesis, Universitas Indonesia, Jakarta. Jusuf, J. B. K., Raharja, A. T., Mahardhika, N. A., & Festiawan, R. 2020. Pengaruh teknik effleurage dan petrissage terhadap penurunan perasaan lelah pasca latihan Pencak Silat. Jurnal Keolahragaan, 81, 1-8. Kamaludin, K., Ngadiman, N., Festiawan, R., Kusuma, I. J., & Febriani, A. R. Pengembangan Permainan Pecah Piring Sintren Pemanfaatan Olahraga Tradisional pada Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Motorik Kasar Anak. TEGAR Journal of Teaching Physical Education in Elementary School, 32, 37-45. Kristi, P. D., Kushartanti, B. W., & Festiawan, R. Electrical Muscle Stimulation The Effects On Weight Reduction, Percentage Of Fat And Waist Circle In Overweight Women. Kusuma, I. J., Nurcahyo, P. J., Wahono, B. S., & Festiawan, R. 2020. Pola Pengembangan Wisata Olahraga Rumpit Bike And Adventure Di Kabupaten Banjarnegara. Jurnal MensSana, 51, 46-52. Murphy, S., &Jowdy, D. 1992.Imagery and mental Horn Ed. Advances in sport psychology pp. 221-250. Champaign, IL Human Kinetics. Ngadiman, N., Kusuma, I. J., & Festiawan, R. Sport Development Index of Banyumas Regency. Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga, 42, 193-197. Richard H. Cox. 2007. Sport and psychology concepts and applications. 6𝑡ℎedition. New York McGraw-Hill Companies, Inc. 32 Sapta Kunta. 2013. Latihan imagery, Jurnal Iptek Olahraga, Vol. 1 No. 1. 34-47. Jakarta Bidang Sport Science & Penerapan Iptek Olahraga KONI Pusat. Saputra, S. H., Kusuma, I. J., & Festiawan, R. 2020. Hubungan Tinggi Badan, Panjang Lengan Dan Daya Tahan Otot Lengan Dengan Keterampilan Bermain Bulutangkis. Jurnal Pendidikan Olahraga, 91, 93-108. Singgih D. Gunarsa. 1989. Psikologi olahraga. Jakarta BPK. Gunung Mulia. Sudibyo Setyobroto. 1993. Psikologi kepelatihan. Jakarta CV Jaya Sakti. Tirtayasa, P. K. R., Santika, I. G. P. N. A., Subekti, M., Adiatmika, I. P. G., & Festiawan, R. 2020. Barrier Jump Training to Leg Muscle Explosive Power. ACTIVE Journal of Physical Education, Sport, Health and Recreation, 93, 173-177. Wicaksono, P. N., Kusuma, I. J., Festiawan, R., Widanita, N., & Anggraeni, D. 2020. Penerapan pendekatan saintifik terhadap pembelajaran pendidikan jasmani materi teknik dasar passing sepak bola. Jurnal pendidikan jasmani Indonesia, 161, 41-54. Weinberg, Rtober S. & Gould, Daniel. 2007. Foundations of sport and exercise psychology, 4𝑡ℎedition. Champaign, IL. Human Kinetics Publishers, Inc. Yusuf, K. A. M., Nurcahyo, P. J., & Festiawan, R. Hubungan Status Gizi Danasupan Energi Dengan Tingkat Kebugaran Jasmani. Jurnal Ilmu Keolahragaan, 191, 76-83. ... According to the theory Suinn created, "visuomotor behavioral rehearsal" VMBR, which combines exercise practice with progressive relaxation mental imagery, is one of numerous approaches to increase cognitive function Weinberg & Gould, 2003. There are 3 phases to the VMBR technique 1 relaxed athletes; 2 mental preparation of athletes in accordance with the demands of their individual sports; and 3 exercising specific technical or physical abilities while in motion Festiawan, 2021. According to this notion, hockey players from the EHC Eleven Hockey Club engage in comparable mechanisms during mental imagery training. ...Imagery training is needed by EHC Eleven Hockey Club hockey athletes in order to increase self-confidence, especially during penalty strokes. The purpose of this study was to develop imagery exercises to increase confidence in video-based format. The method used in this research is the Research and Development R&D method with the following steps needs analysis, product design, expert validation, product revision, small group trial, large group trial and final product. The subjects used in this study were athletes, coaches and expert validators. Development analysis using interview instruments. The product is validated by 3 expert validators 1 one Psychology Expert, 1 one Hockey Coaching Expert, 1 one Hockey Expert and the results of the validator's assessment showed to 100% rate which assign the product are very valid. The video product then tested by a small group of 5 five hockey athletes and a large group of 10 ten hockey athletes. From the results obtained from the small group trial, namely very valid and the results from the large group very valid. So it can be concluded that the development of imagery exercises to increase confidence in doing penalty strokes for video-based Hockey athletes is feasible to Nur WicaksonoIndra Jati Kusuma Rifqi FestiawanDewi AnggraeniKurikulum 2013 mengamanatkan pendekatan saintifik untuk mewujudkan cita-cita pendidikan nasional, 5M Mengamati, Mencoba, Menalar, Menanya, Mengkomunikasikan. Melalui hal itu maka dalam penerapan pembelajaranya harus bisa mengamalkan 5M untuk mengetahui apakah penerapan pendekatan saintifik sudah berjalan dengan baik. Penelitian ini menganalisis penerapan pendekatan saintifik di SMP N 1 Kembaran untuk mengetahui jalannya penerapan pendekatan saintifik melalui fokus pembelajaran yaitu materi teknik dasar passing sepakbola pada mata pelajaran PJOK kelas VIII. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling. Keabsahan data dilakukan melalui metode trianggulasi. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu model Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini yaitu 1 Penerapan pendekatan saintifik sudah berjalan baik dalam pembelajaran penjas materi teknik dasar passing sepakbola kelas VIII. 2 Penerapan pendekatan saintifik sudah baik dan sudah membuahkan hasil namun belum bisa dikatakan sempurna karena harus menyesuaikan kondisi siswa. 3 Keberhasilan penerapan pendekatan saintifik secara sempurna dipengaruhi oleh kondisi siswa. Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan saintifik sudah baik dilakasanakan oleh guru dan sekolah serta sudah membuahkan hasil yang diinginkan namun belum bisa dikatakan sempurna karena masih harus disesuaikan dengan kondisi Kunci Pendekatan Saintifik, Pendidikan Jasmani, Passing, Sepakbola. Application of Scientific Approach to Physical Education Learning Basic Technical Material for Football PassingAbstractThe 2013 curriculum mandates a scientific approach to realizing the ideals of national education, 5M Observing, Trying, Reasoning, Asking, Communicating. Through this, the application of the learner must be able to practice 5M to find out whether the application of the scientific approach is going well. This study analyzes the application of the scientific approach in SMP N 1 Kembaran to find out the way the application of the scientific approach through the focus of learning is the basic material of passing football in PJOK VIII subjects. This research is a qualitative research, the sampling technique used in this study uses purposive sampling. The validity of the data is done through the triangulation method. The analysis used in this study is the Miles and Huberman model. The results of this study are 1 The application of the scientific approach has been going well in the learning of Physical Education basic techniques for passing grade VIII football. 2 The application of a scientific approach is good and has produced results but can not be said to be perfect because they have to adjust the conditions of students. 3 The successful application of the scientific approach is perfectly influenced by the condition of the students. From the results above it can be concluded that the application of the scientific approach has been carried out by both the teacher and the school and has produced the desired results but cannot be said to be perfect because it still has to be adjusted to the conditions of the Scientific Approach, Physical Education, Passing, Football. Rifqi FestiawanThis study aims to determine the effect of implementing traditional game learning models on improving basic motor skills in children. The research method used is the experimental method. The designs used are the Pre-test and Post-test Group Design. The study population consisted of two classes with a total of 60 students and the sampling technique used simple random sampling with a sample size of 30 students. The test instruments used in this study included 1 4 x 10-meter shuttle run test, 2 throw-and-catch test at a distance of 1 meter from the wall, 3 Stork stand test positional balance, 4. Test 30 sprint meter. The data analysis technique used is the prerequisite test which includes data normality test and data homogeneity test, as well as hypothesis testing using paired t-test. The results showed that there was an effect of traditional game-based learning models on the improvement of children's Fundamental Motor Skills as evidenced by p-value = In addition, from the control group data, it is known that there is no significant effect of conventional learning on improving children's Fundamental Motor Skills as evidenced by p-value = with these results it can be concluded that traditional game-based learning models are proven to improve children's fundamental motor skills, and can be used as an alternative to the learning process that is more effective than conventional Dyana KristiWara Kushartanti Rifqi FestiawanElectrical stimulation devices have been widely used for therapy and muscle strength training. This study aims to develop these stimulation devices in weight loss, fat percentage, and waist circumference programs for overweight women. Ten respondents who had never undertaken strenuous physical activity aged between 25-35 years were selected with BMI criteria> kg / m2, fat percentage> 25%, and abdominal circumference> 80 cm through pretest measurements. Respondents underwent EMS training with isometric body movement training. The training is carried out twice a week for 12 meetings with 80% training intensity 60-80 Hz flow. The post test results showed that the average weight difference was average difference in fat percentage of and the average waist circumference difference of So, bodyweight training with EMS can significantly reduce body fat percentage, and waist Hera SaputraIndra Jati Kusuma Rifqi Festiawanp>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tinggi badan, panjang lengan dan daya tahan otot lengan dengan keterampilan bermain bulutangkis. Metode penelitian ini adalah korelasional dengan pendekatan cross sectional , jumlah sampel sebanyak 20 mahasiswa. Instrumen penelitian antara lain meteran, tes push up dan tes keterampilan bermain bulutangkis. Analisis data menggunakan uji pearson product moment dan korelasi ganda. Hasil penelitian ini menunjukkan 1 terdapat hubungan signifikan antara tinggi badan dan keterampilan bermain dengan koefisien korelasi = 0,650 > rtabel = 0,468, 2 terdapat hubungan signifikan antara panjang lengan dan keterampilan bermain dengan koefisien korelasi = 0,641 > rtabel = 0,468, 3 terdapat hubungan signifikan antara daya tahan otot lengan dan keterampilan bermain dengan koefisien korelasi = 0,611 > rtabel = 0,468, dan 4 terdapat hubungan ketiga variabel dengan keterampilan bermain bulutangkis dengan nilai rx1,x2,.x3,y = 0,498 > rtabel = 0,468, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara ketiga variabel dengan keterampilan bermain bulutangkis iT itabel i1,711 idan inilai isig2 i– itailed i0,000 i< idari i0,05. iDengan ihasil itersebut idapat idisimpulkan iada ipengaruh ilatihan ismall isided igames iterhadap ikemampuan ilong ipass isepakbola isiswa iputera iekstrakurikuler iSMA iNegeri i3 iPurwokerto i Rifqi FestiawanThis study aims to determine the effect of the Technical approach and tactical approach to the level of futsal playing skills. This research is experimental. The population used is the futsal UKM participants in FIKES Unsoed, totaling 40 people. The sample used in this study was 40 students with a sampling technique that is a total sampling. Data collection techniques in this study used the test. The instrument used in this study was a futsal playing skills test. Data analysis techniques using t-test. The results of this study indicate that there is a significant effect of the practice of a technical approach to futsal playing skills with a Sig When seen from the average pretest of and the average posttest of the Mean Difference figure of is obtained, this shows a better chance of the effect of the tactical approach exercise on futsal playing skills stated to have an influence significant with Sig 0,000. When seen from the average pretest of and the average posttest of a Mean Difference figure of was obtained, this indicates that the change is better at Whereas from the results of the independent-t-test it was found that there was no significant difference between the training methods of the Technical and tactic approaches in improving futsal playing skills as indicated by the Sig value Conclusion, there is no significant difference between the effect of training using a technical approach and tactics on futsal playing skills Keywords Tactic and Technical Approaches, Skills, Futsal. Rifqi FestiawanSuharjana SuharjanaGalih PriyambadaYudha FebriantaPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh High Intensity Interval Training HIIT dan Fartlek Training terhadap tingkat VO2 Max Atlet Soedirman Expedition VII. Metode penelitian ini adalah pre-experimental dengan desain two group pretest posttest design. Populasi penelitian berjumlah 20 orang dan menggunakan teknik total sampling sehingga diperoleh jumlah sampel 20 Orang. Instrumen Penelitian yang digunakan yaitu Multistage Fitness Test MFT. Penelitian ini dilaksanakan pada Januari 2019 sampai dengan Juni 2019. Teknik analisis data yang digunakan adalah Paired T-Test dan Independent T-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh High Intensity Interval Training HIIT terhadap peningkatan tingkat VO2 Max Atlet Ekspedisi Soedirman VII dibuktikan dengan p value = Selain itu, ada pengaruh Fartlek Training terhadap tingkat peningkatan VO2 Max Atlet Ekspedisi Soedirman VII dibuktikan dengan p value = dan tidak ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara High Intensity Interval Training HIIT dan Fartlek Training pada peningkatan tingkat VO2 Max atlet Ekspedisi Soedirman VII dibuktikan dengan ρ value = 0,840, dengan hasil ini maka terdapat pengaruh dari kedua jenis latihan terhadap peningkatan VO2 Max namun tidak ada perbedaan pengaruh yang signifikan diantara keduanya, namun jika dilihat dari presentase kenaikannya, metode latihan High Intensity Interval Training HIIT menunjukkan hasil yang lebih baik. Rifqi FestiawanAndri Tria RaharjaJeane Betty Kurnia JusufNanda Alfian MahardikaThe research was aimed at determining the influence of Oregon Circuit Training and Fartlek Exercises on the VO2max level of the Soedirman Expedition VII athletes. The research method used was pre-experimental method with two group pre-tests post-test design. The population were 20 people. The total sampling technique was administered to obtain 20 samples. The research instrument used Multi Stage Fitness Test. This study was conducted from June 2019 to October 2019. The data analysis process was conducted by using T-Test. Results showed that there are influences of both types of exercises on the increase of Vo2Max, but there is no significant influence difference between the two. In other words, the more often the exercise is done, the better the Vo2Max level of the athletes. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Oregon Circuit Training dan Latihan Fartlek terhadap tingkat VO2max pada atlet Soedirman Expedition VII. Metode penelitian menggunakan pre-experimental dengan two group pretest posttest design. Populasi berjumlah 20 orang dan menggunakan teknik total sampling sehingga diperoleh 20 sampel. Instrumen Penelitian menggunakan Instrumen Multi Stage Fitness Test. Penelitian ini dilaksanakan pada Juni 2019 sampai dengan Oktober 2019. Teknik analisis data diperoleh dengan Uji T. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh dari kedua jenis latihan terhadap peningkatan Vo2Max namun tidak ada perbedaan pengaruh yang signifikan diantara keduanya. Dengan kata lain, semakin sering latihan dilakukan maka semakin baik tingkat Vo2Max Atlet.
You may not realize it but designers are natural problem-solvers. By nature, graphic designers can see the light at the end of the tunnel and develop the perfect product at the perfect time. Here are 10 problems in graphic design that graphic designers can solve for you—in a creative, beautiful way!But before we jump into that, take note that not all graphic designers or teams are created equal. It’s easy to claim to be one but proving your worth is harder. So if you are going to hire a graphic design team, set high standards and look for their portfolio. Take for example, the Penji team. Over the years, we have already proven our professionalism by working with different clients and providing exemplary outputs every single time. The best part is, you can get unlimited graphic designs for a fixed price every month. Check out our affordable plans right now. BrandingMany companies make the mistake of not spending enough time or money on solid branding. This creates problems in graphic design in the future. You should invest in branding because professional graphic design will strike the right imagery for your company. After all, your brand is there to make your company memorable, so why not do it right?First ImpressionsFirst impressions definitely matter. Anyone who tells you they don’t is lying. Since that’s the case, you should let a graphic artist design your logo, your website and your marketing materials to avoid problems in graphic design that you’ll run to have the RIGHT first impressions, let Penji work on your visuals. They don’t just give you beautiful pieces of work, they make sure that the graphic design is effective for your market. You should take advantage of their plans where you can send them unlimited projects and unlimited revisions. If you’re not happy with their services, you can pause your membership – no questions asked! You can sign up right now. Lead ConversionWhen graphic designs are good, then they convert leads. Design is more than just graphic. Design is also about being effective, and that means creating a website that entices visitors to take action, like clicking or submitting contact information. Create smart, effective campaigns efficientlyMeet your conversion goals using visuals that stand outI need this!VisualizeGraphic designs can tell your customers how something works or how they interact with a product you’re selling. When developing, visualize it like this, the graphic artist considers function first and aesthetics great logo and thoughtful design can tell the story about your business—about what you do or about your founding. A picture really is worth a thousand words, so people should be able to look at your graphic and immediately have a sense for what your business does. Take the example of two black and white logos. One might be done to evoke history and an older company founding, while the other might be clean and modern to evoke a tech company. Both are black and white, but the same color scheme can evoke entirely different SolutionsThere are many cases in business where you need to develop multiple solutions for a single problem. Sometimes the team is too close to it, so graphic designers can help you fill this role. You don’t want to be left holding the bag with one design that you just knew the client would love, only to find out that he or she hates it!DifferentiatorSmall businesses face stiff competition, so great graphic design can really distinguish and set you apart. Most small businesses have to have at least one differentiator in order to be competitive. It might be customer service, it might be your pricing, but it can easily be your graphic design. Make your business unique so you stand out!Group ParticipationSometimes, you need collaboration from a group. Having graphics and imagery to help the group along can really get those creative juices flowing. Starting OverIt happens to the best of us. We reach a point where we just have to scrap a project and start over. However, your team may have been immersed in the old project and have trouble letting go. Detached graphic designers can come to your rescue to get you started again. Remember that sometimes the best designs were not ever part of your original MoneyDon’t be penny wise and pound foolish. Companies that don’t seriously integrate graphic design at the beginning of a process will more than likely end up paying for it at the end. Just remember that quality design has longevity. Yes, you might pay a bit more in the beginning, but it will be worth it in the with Professional Graphic Designers with PenjiPenji is your answered prayer if you want to have professional graphic designers work for your team without spending too much. Just sign up, choose a plan perfect for your budget, and get access to our platform. Let’s give you an overview of how this Request Through the PlatformWe have our own app where you can send graphic design requests easily. Once you are already in the dashboard, find the Click New Project’ button and supply all the necessary details. This will help our designer create the first draft. If they have questions about your request, they will send it through the same platform. There’s no need to open your email because all transactions are done on the Penji platform. Review and Revise the First DraftIn most cases, we send the first draft after 24 hours. But if your request entails complex elements, we have a lead time of 48 hours. After receiving the file, you can place your comments directly onto the image. Just click and point the areas where you want to change, add your feedback, and the designer will handle the rest. Download and Use the Final Output The last step is easy as well since you can download the source files right away. Again, there’s no need to request these separately from the designer. These will be ready anytime you want. Start using it on your website, social media, or your marketing collaterals, and you are on your way to successfully promoting your brand. Save yourself from spending too much time and effort generating creative ideas. Leave the heavy lifting to our team. One of Penji’s core objectives is to deliver quality graphic design every single time. See some of their works and sign up to enjoy the benefits.
berikan contoh masalah dengan solusi produk grafika pada kegiatan olahraga